Jogja Tetap Istimewa

Jogja Tetap Istimewa

 

Ada suatu pengalaman ketika saya punya teman dari Swedia, bergelar PhD dan dia ini hobbynya touring ke banyak negara. Saya sudah merekomendasikan ke (tentunya) tempat-tempat yang ramai dikunjungi tourist, tapi teman saya ini unik, tidak suka yang touristic.

Sewaktu di Jogja, Saya ajak ‘masangin’ masuk diantara beringin. Jika anda belum tau, di alun-alun selatan (kidul) ada 2 (dua) pohon beringin besar, yang berada di wilayah Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Dengan mata tertutup, kita berjalan dari arah utara (Sasono Inggil) untuk melewati 2 (dua) beringin tersebut. Jarak antara pohon beringin satu dengan lainnya cukup lebar sekitar 10 meter.

Konon banyak yang percaya jika kita mampu melewati kedua beringin tersebut maka rejeki atau cita-cita kita sudah dekat, karena kedua beringin tersebut merupakan representasi dari halangan dan/atau rintangan yang berada disekitar kita. Tidak ada aturan baku dalam mencoba masangin ini, tetapi sudah menjadi konvensi atau peraturan tidak tertulis, percobaan pertamalah yang digunakan sebagai dasar dan dilakukan pada malam hari.

Aku menyuruh temen Swedia ini untuk ‘make a wish’ sebelum dia mencoba pertama kalinya masangin. Akhirnya dia pun menutup rapat matanya dan coba melangkah menyusuri rumput yang jarang-jarang, dan aku mengawasi sekitar supaya jangan sampai menabrak orang lain, karena pada saat itu sedang ramai orang yang juga mencoba masangin. Percobaan pertama temenku, melenceng jauh ke kanan. Akhirnya temenku aku stop karena mau menuju jalan raya. Kusuruh membuka matanya, dan…. Temenku ini kaget dan terheran-heran karena tidak percaya melencengnya terlalu jauh. Curious… Dia sangat penasaran sekali karena jarak diantara 2 beringin cukup lebar tetapi ia melenceng sangat jauh.

Temenku menyuruh aku lagi untuk mengawasinya dan ingin mencoba untuk kali kedua. Aku pun bersedia, dia mencoba lagi, kali ini ia menabrak seorang pengemis yang sedang duduk, tetapi ia pun belum bisa melewati rintangan beringin. Percobaan ketiga kalinya, ia pun mencoba dengan cepat dan berlari-lari kecil, start-nya pun dimulai agak menyamping ke kiri (timur) supaya kalo melenceng ke kanan lagi dia bisa melewati ke dua beringin tersebut. Percobaan ini pun gagal, tetapi sudah mendingan, sudah mengarah ke pohon beringin. Sangat… sangat penasaran ia pun mencoba lagi dan belum bisa juga. Percobaan ke lima dia bilang, ini yang terakhir dan harus berhasil. Temenku menghela nafas sebelumnya, dan mencoba melangkah. Wow…. nyaris sekali, sudah masuk di antara kedua beringin tetapi belum melewatinya, karena ia serong ke kanan dan menabrak tembok pagar beringin. Ia pun terheran-heran. Aku lihat di guratan wajahnya dia sangat tidak percaya karena gagal sampai ke lima kalinya.

Tak selang berapa lama, temenku meminta aku juga untuk mencobanya. Sebelumnya aku pernah mencoba masangin dan gagal juga. Baiklah… akhirnya aku mencoba juga untuk kali ini. Aku tutup mataku dan mencoba berjalan menuju diantara dua beringin. Dan…. Surprise… Gak tau kenapa kali ini aku berhasil melewatinya. Wow…. semoga ini pertanda baik, semoga sukses semakin dekat. Amien.

Hari yang lain aku ajak temenku ini keliling Jogja, kali ini ke Ganjuran. Temenku heran akan pemandangan dan fenomena kenapa banyak orang sampai larut malam menyisihkan waktu untuk berdoa. Karena pengalaman ini tidak ada di Eropa. Dia mengajak silahturahmi pikiran dengan aku mengenai alasan orang berdoa. Saya sadar betul temenku ini basis science dengan gelar PhD yang dimilikinya, tentu ada sedikit faham atheism. Dia bertanya, apa kalau malam seperti ini berdoa, besok paginya akan datang rejeki..? Hm… pertanyaan klasik yang susah kujawab, apalagi dengan bahasa Inggris. Mumet….!!!

Singkat jawabku: || Biarlah mereka percaya apa yang diyakini mereka itu benar. ||

Setelah ngobrol sana kemari ditemani dengan kopi serta sohibku si Gali Gembenk tidak terasa sudah jam 2 dini hari. Akhirnya kami pun pulang, dan ku antar temenku ini ke hotelnya.

Selanjutnya temenku melancong ke beberapa tempat di Pulau Jawa, untuk beberapa hari. Akhirnya, suatu ketika temenku balik lagi ke Jogja. Dia bilang, Jogja itu special. Kemudian dia bercerita kalau sudah mengunjungi beberapa tempat di Indonesia, banyak orang lokal yang ia temui. Hanya di Jogja yang paling ramah, temenku bilang, orang lokal Jogja melihat foreigner selalu dengan senyum. Banyak tempat lain yang cuek dan acuh tak acuh.

Hm… Jogja memang istimewa tidak cuman saya saja yang mengaguminya. Temenku dari Swedia pun, juga menyatakan demikian.

Mari jaga Keistimewaan Jogja, tetap ramah, SMILE please…. Ayo mesem.

 


--

© 2011 malaekat.com



, , , , , ,

  1. Belum ada komentar
(e-mail tidak akan ditampilkan)